Makassar – Yunita adalah salah seorang pelajar Sekolah Dasar di Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Meski tinggal di Makassar, Yunita baru saja mengenal dan merasakan berlayar dengan pinisi, perahu tradisional Bugis-Makassar.
Padahal, kapal layar Pinisi, telah menjadi ikon dunia. Pada Desember 2017, Unesco (sebuah organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa, PBB) telah mengukuhkan Pinisi sebagai Warisan Budaya Tak Benda asal Indonesia.
Pinisi sebagai perlambang teknik pembuatan kapal tradisional, hingga kini masih tetap ada. Untuk mengenalkan kapal layar ini, Yayasan Makassar Skalia (YMS) bekerja sama dengan Toyota Astra Motor melakukan edukasi maritim.
Bukan hanya pelajar Sekolah Dasar. Sejumlah pelajar Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, serta mahasiswa di perguruan tinggi ikut dalam program ini. Mereka tidak hanya sekadar berlayar. Dengan menggunakan pinisi, wahana belajar lain ditularkan YMS, yakni perbaikan kualitas lingkungan dengan melakukan rehabilitasi terumbu karang.
Seperti kata pepatah: sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Begitu pula program kolaborasi YMS ini. Makanya, tidak heran pemerintah provinsi Sulawesi Selatan dan pemerintah kota Makassar mendukung kegiatan ini.
Rehabilitasi terumbu karang telah dilakukan di Pulau Samalona. Perjalanan pelayaran ke pulau ini dari pantai Losari, kurang lebih satu jam. Rehabilitasi dibuat dengan menggunakan spider structure (struktur rangka laba-laba) sebagai media tumbuh terumbu karang.
Program edukasi maritim ini dapat memacu dan menambah partisipasi, serta kapasitas berbagai pihak dalam merawat dan menjaga terumbu karang. Dengan pemahaman tentang potensi laut dan kondisi yang ada sekarang, akan meningkatkan pula kualitas perairan laut.
Kegiatan yang telah dilakukan dengan mengenalkan informasi kapal layar pinisi. Kemudian, pelestarian nilai budaya melalui pendidikan pengalaman hidup di laut dan ekologi maritim.
Seperti kata Yunita, di kelas pinisi ini, saya baru mengenal pinisi. Perahu yang selalu diceritakan nenek saya. Yunita berlayar dengan pinisi, sekaligus belajar tentang budaya dan perbaikan kualitas lingkungan.*





Komentar tentang post