Watt mencoba untuk mencari tahu letak-letak kesamaan dari dua kejadian tersebut. Kesamaan ini dikhususkan pada letak tanah mana yang bergoyang dan jatuh, sehingga terjadi perubahan bentuk tanah. Ini bisa dipakai sebagai acuan apakah tanah yang jatuh menjadi pemicu getaran pada laut yang memicu tsunami.
Geologis lainnya Cassidy dan Amber fokus pada efek erupsi terhadap jatuhnya tanah. Mereka mencari tahu bagaimana sebenarnya proses rubuhnya tanah berlangsung. Pendekatan yang mereka pakai adalah pendekatan geokimia. Pendekatan geofisika sulit dilakukan karena karena kurangnya data dan pengamatan fisis, apalagi terjadi pada 1883.
Engwell dalam presentasinya menyajikan kejadian Krakatau pada 1883 bisa didekati dengan model matematika. Ini mungkin dapat dilakukan mengingat keterbatasan-keterbatasan teknologi yang dimiliki saat itu, sehingga tidak cukup data untuk melakukan model yang tervisualisasi.
Hasil penelitian ini belum selesai dan tidak ada kesimpulan mutlak. Para ahli akan kembali ke laboratorium dan menguji lagi aspek-aspek khusus.
Rekonstruksi kejadian vulkanik, terutama yang berkorelasi dengan potensi tsunami, akan menjadi pengetahuan yang sangat penting. Bukan hanya memahami apa saja akibat erupsi gunung berapi yang berdekatan dengan perairan, melainkan bisa menentukan letak-letak mineral yang berguna bagi manusia dalam endapan atau daratan sekitarnya.*





Komentar tentang post