Sistem atau entitas yang begitu powerful, yang diakui belum sempurna, sudah bisa diakses publik. Bayangkan kalau entitas itu adalah “pistol cerdas”. Dia bisa membunuh seorang bayi tidak berdosa, tapi juga bisa melindungi penggunanya dari perampok.
Bayangkan kalau entitas cerdas itu, yang bisa mendistribusikan informasi yang masih mengandung elemen halusisasi –atau bahkan membawa sistem nilai yang berbahaya, seperti bias– bisa diakses semua orang. Dia bisa membantu meningkatkan produktivitas manusia, tapi pada saat yang sama, dia bisa membangun collective imagination yang baru.
Kalau kita membiarkan demikian, maka kita menyerahkan nasib kita, nasib umat manusia, juga nasib NKRI, pada mahluk yang belum kita atur sama sekali.
Pada akhirnya, “kerumunan” dan “profesor” sedang membentuk dunia yang kita nikmati dan akan wariskan ke generasi berikutnya. Pilihan tersedia di depan kita: kita mengontrolnya atau membiarkannya mengontrol kita.*




