Namun, kekhawatiran tentang inflasi yang mengikis nilai riil dana-dana ini tetap ada.
Pada tahun 2035, komitmen USD$300 miliar diperkirakan akan menyusut menjadi setara dengan USD$175 miliar, dengan asumsi tingkat inflasi tahunan sebesar 5 persen.
Ketidakhadiran ketentuan eksplisit untuk pendanaan baru dan tambahan menimbulkan kekhawatiran tentang seberapa besar dana ini mungkin dialihkan dari bantuan yang sudah ada, yang berpotensi mengganggu tujuan pembangunan berkelanjutan.
Kesenjangan keuangan ini, yang mencerminkan sistem global yang tidak cukup siap untuk mengatasi tantangan iklim yang mendesak, menuntut pendekatan baru.
Ekonomi emerging, yang dibatasi oleh sumber daya yang terbatas, tidak dapat mengandalkan janji-janji internasional saja.
Mereka harus menjajaki strategi inovatif dan pragmatis untuk menggalang modal, memastikan hasil yang selaras dengan struktur ekonomi saat ini.
Paradoks Pembiayaan Iklim
Ketahanan iklim bergantung pada proyek mitigasi dan adaptasi.
Mitigasi berfokus pada pengurangan atau pencegahan penyebab perubahan iklim, misalnya melalui proyek energi terbarukan.
Ini mencakup pekerjaan seperti konstruksi, operasi, dan pemeliharaan fasilitas energi terbarukan.
Adaptasi melibatkan penyesuaian sistem dan praktik untuk menghadapi dampak perubahan iklim. Contohnya adalah perlindungan banjir dan penanaman tanaman yang tahan kekeringan.




