Jika merujuk pada data di atas, baik hasil survey maupun hasil Pemilu, 5 nama tersebut tidak lagi berada dalam kondisi yang fit untuk Pilgub tahun ini juga. Secara khusus, di antara 5 nama tersebut hanya Syarif yang membuktikan keterterimaan secara signifikan, tetapi koleksi 100 ribuan suara tersebut masih perlu pembuktian kinerja di Senayan terlebih dahulu. Artinya aspirasi ratusan ribu suara tersebut bukan untuk di-split ke Pilgub, beda jika misalnya Pilgub masih 2 atau 3 tahun lagi. Sedangkan kans Ida, Roem, Marten ataupun Tony hari ini baru bisa dikategorikan untuk posisi Cawagub jika 4 nama ini bisa menaikkan posisi tawar termasuk elektabilitasnya.
Mengapa demikian, apakah 5 nama minus Syarief tidak “qualified” sebagai Calon Gubernur? Pilgub tidak sekadar nama besar dan menjabat sebagai apa. Pilgub adalah kombinasi dari (1) pengalaman kontestasi baik di legislatif maupun eksekutif. (2) Apa gagasannya dan bagaimana mewujudkannya. (3) Jaringan lintas partai. (4) Finansial.
(5) Perilaku komunikasi antar elit dan pemilih. (6) Jejaring pendukung dan relawan. (7) Pengalaman jabatan yang sedang dan pernah diemban. (8) Nama besar dan nama baik. Salah satu dari faktor-faktor tersebut tidak ada, maka peluang semakin terbatas.
Apalagi jika misalnya Nasdem akan mengusung Rahmat Gobel untuk maju ke Pilgub, yang pada Pemilu 2024 barusan bisa meraih 195 ribu suara, atau 20 – 23 % dari DPT. Walaupun ada 77 – 80 % pemilih yang tidak memilih Rahmat Gobel, tetapi kans dan peluangnya masih lebih di atas jika dibandingkan Idah Syaidah, Roem Kono, Marten Taha dan Tony Uloli.




