Karena itu, perusahaan yang memasang iklan di Tempo tetap dapat diberitakan secara kritis. Sebaliknya, perusahaan yang tidak pernah beriklan tidak otomatis akan diberitakan secara negatif.
Keputusan redaksi harus selalu ditentukan oleh fakta dan kepentingan publik, bukan oleh daftar pemasang iklan.
Kekeliruan Sebagian Praktisi Humas
Masalah yang justru semakin sering terjadi adalah upaya sebagian praktisi humas untuk menghapus garis pemisah tersebut.
Ada pihak yang meminta materi humas diterbitkan persis seperti yang mereka kirimkan, tanpa penyuntingan, tetapi menolak bila materi itu diberi label iklan. Mereka menghendaki kewenangan seperti pemasang iklan sekaligus kredibilitas yang hanya dimiliki berita organik.
Permintaan seperti itu harus ditolak.
Sebuah konten tidak dapat sekaligus dikendalikan penuh oleh klien dan dipresentasikan kepada publik sebagai keputusan independen redaksi. Bila seluruh substansi, judul, narasumber, waktu penerbitan, dan sudut pandangnya ditentukan pihak yang membayar, konten tersebut adalah iklan. Menyembunyikan kenyataan itu berarti mengelabui pembaca.
Ada pula anggapan bahwa memasang iklan seharusnya memberi hak untuk memperoleh “berita positif”. Istilah itu sendiri keliru. Berita tidak dibagi menjadi positif atau negatif berdasarkan keinginan pihak yang diberitakan. Ukurannya adalah akurasi, relevansi, kelengkapan, keberimbangan, dan kepentingan publik.




