Pendidikan di THHK berorientasi pada bahasa Mandarin, ilmu pengetahuan modern, dan etika Konfusianisme, namun dalam praktiknya juga memuat semangat nasionalisme yang kuat. Para alumninya banyak yang kelak menjadi tokoh penting dalam bisnis, pendidikan, dan bahkan politik lokal maupun nasional.
Tokoh-Tokoh Tionghoa Asal Gorontalo dan Kiprah Nasional
Dalam konteks Gorontalo, sebagaimana dalam tulisan saya yang berjudul “Tokoh Nasional Tionghoa Asal Gorontalo”, sejumlah tokoh Tionghoa asal Gorontalo banyak tercatat memberi kontribusi penting dalam ranah intelektual dan pembangunan nasional.
Kisah tentang orang Tionghoa sukses di negeri ini banyak yang memulai masa kecilnya di Gorontalo. Selain Eddie Lembong dan Yohanes Lembong, ada tokoh nasional yang pada masa setelah Indonesia merdeka pernah menduduki Menteri Keuangan di era Presiden Soekarno.
Namanya adalah Ong Eng Die. Ia pernah menduduki jabatan tersebut selama dua kali, yakni pada Kabinet Amir Sjarifoedin (1947-1948) dan pada Kabinet Ali Sastroamidjoyo (1953-1955). Ong Eng Die adalah salah satu penasehat ekonomi delegasi Indonesia pada saat perundingan Renville. Pada uang satu rupiah di tahun 1954, ada tanda tangan Ong Eng Die menghiasi tanda pembayaran yang sah pada kala itu.
Ong Eng Die adalah kelahiran Gorontalo pada 20 Juni 1910. Dia meraih Doktor dari Universitas Amsterdam pada 1943. Ayahnya, Ong Teng Hoen, menjabat sebagai Luitenant der Chinezen dari Gorontalo. Ia memimpin birokrasi sipil Tiongkok di Gorontalo sejak tahun 1924 hingga invasi Jepang pada 1942. Ong Teng Hoen sendiri lahir di Manado pada 2 Januari 1874 dan menutup usia pada 8 Februari 1958 di Gorontalo. Ong Teng Hoen menikah dengan Soei Djok Thie Nio dan memiliki anak Ong Gien Seh Nio (1903-1963), Ong Gien Hoa Nio (1905-), Ong Gien The Nio (1907-1985), Ong Eng Die (1910-1999) dan terakhir Ong Eng Pien (1915-).




