Meskipun demikian, berdasarkan analisis struktur genetic, Pontin & Cruickshank (2012) menduga terdapat keanekaragaman tersembunyi (cryptic diversity) pada ubur-ubur api.
Siklus hidup atau tahapan perkembangan ubur-ubur api hingga saat ini belum sepenuhnya diketahui. Misalnya saja sampai saat ini tahapan telur dan planula dari ubur-ubur api belum berhasil terobservasi.
Fase perkembangan awal dari ubur-ubur api juga belum terobservasi secara langsung. Sejauh ini, informasi fase awal perkembangan ubur-ubur api diperoleh dari spesimen awetan yang tertangkap jaring.
Fase siklus kehidupan ubur-ubur api ini dapat direkonstruksi secara teoretis berdasarkan siklus hidup jenis lain yang dekat kekerabatannya.
Fase telur dan planula diilustrasikan dengan merujuk pada siklus hidup Nanomia bijuga, yang juga anggota siphonophore.
Ubur-ubur api bersifat hermaprodit. Artinya dalam satu kesatuan koloni terdapat gamet jantan dan betina sekaligus.
Ubur-ubur api tetap membutuhkan sperma atau telur dari koloni lain saat pembuahan. Ubur-ubur api yang telah dewasa secara seksual akan melepas gonodendra matang ke dalam air.
Gonodendra akan bergerak di dalam air membawa gonophore yang berisi sperma atau telur dengan bantuan nectophores.
Setelah bertemu dengan gonophore dari koloni lain maka akan terjadi fertilisasi eskternal di dalam air. Sel telur yang telah dibuahi akan berkembang menjadi larva dan tumbuh menjadi ubur-ubur api dewasa.





Komentar tentang post