Kamis, Oktober 1, 2026
Beri Dukungan
redaksi@darilaut.id
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Masuk
  • Daftar
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Home Kajian

Penelitian Terbaru, Ikan Tuna di Samudera Hindia Lebih Tercemar Merkuri

redaksi
10 September 2019
Kategori : Kajian
0
Penelitian Terbaru, Ikan Tuna di Samudera Hindia Lebih Tercemar Merkuri

Yellowfin tuna FOTO: DARILAUT.ID

Keberadaan merkuri di perairan dapat terjadi secara alamiah, melalui proses pelapukan dari bebatuan dan debu yang mengandung logam dari aktivitas gunung berapi, pelapukan tebing dan tanah serta aerosol dan partikulat dari permukaan lautan (Connell & Miller, 1995).

Penggunaan merkuri pada industri, mencapai ±3.000 jenis, antara lain pada industri pengolahan bahan-bahan kimia, insektisida untuk pertanian, obat-obatan, dan pertambangan (Alfian, 2006). Diperkirakan sekitar 350.000 ton merkuri tersimpan di lautan di seluruh dunia (Sunderland & Mason, 2007), dua pertiga dari jumlah tersebut berasal dari aktivitas manusia dari berbagai jenis industri (Lamborg et al., 2014).

Di perairan, proses dekomposisi oleh bakteri dapat mengubah merkuri menjadi senyawa organik metil merkuri. Selanjutnya diserap oleh jasad renik dan masuk dalam rantai makanan, yang kemudian akan terjadi akumulasi dalam tubuh hewan air seperti ikan dan kerang.

Sistem peringatan dini terhadap kasus pangan dan pakan Uni Eropa, yaitu Rapid Alert System for Food and Feed (EU-RASFF) melaporkan adanya penolakan produk tuna dan tuna-like karena kandungan merkuri yang melebihi standar 1,0 ppm.

Pada 2014- 2017 berturut-turut terjadi 99, 85, 98 dan 133 kasus penolakan, antara lain dari di Italia, Belanda, Spanyol, Portugal, Jerman dan beberapa negara lainnya (EC, 2017). Total kasus penolakan produk tuna dan tuna-like dari Indonesia pada tahun 2014-2017 sebanyak 13 kasus, berasal dari unit pengolahan ikan yang mengambil bahan baku dari tangkapan di Samudera Hindia.

Halaman 2 dari 4
Sebelumnya1234Selanjutnya
Tags: Komoditi Hasil Lautmerkuriperikanan tunaSumberdaya Ikan
Bagikan20Tweet10KirimKirim
Previous Post

3 Bulan Tak Digaji di Iran, 5 ABK Dipulangkan ke Indonesia

Next Post

Distribusi Barang Tol Laut Harus Transparan

Postingan Terkait

Ini Rekomendasi Sosiolog Universitas Negeri Gorontalo Untuk Penyelesaian Konflik Pohuwato

Mengapa PKI Tak Laku di Gorontalo?

1 Oktober 2026
Terlalu Banyak Media Pembelajaran, Belum Tentu Lebih Mudah Belajar Bahasa Inggris

Menjadi Fasih Itu Bukan Soal Banyaknya Kata yang Dikuasai

16 September 2026

Terlalu Banyak Media Pembelajaran, Belum Tentu Lebih Mudah Belajar Bahasa Inggris

Sudah Saatnya Kita Memikirkan Ulang Pembelajaran Bahasa Inggris

Senjakala Elite Nasional Gorontalo

Iklan Tidak Membeli Pemberitaan

Kritik terhadap Pembongkaran Cagar Budaya di Gorontalo

Antara IPERA dan Pajak dalam Badan Hukum (Koperasi) Pengelola Wilayah Pertambangan Rakyat

Next Post
Distribusi Barang Tol Laut Harus Transparan

Distribusi Barang Tol Laut Harus Transparan

Komentar tentang post

TERBARU

Karhutla di Pulau Karakelang Talaud Sulawesi Utara

Kebutuhan Pasar Ikan Hias Indonesia Diperoleh Melalui Eksploitasi Dari Alam

UNG Perkuat Tata Kelola Akademik Melalui Uji Publik

Panas Laut dan El Niño Mungkin Bikin Penyu Lekang Pertama Kali Bertelur di Pantai California

Diskualifikasi Elektoral Soal Syarat Pendidikan Cawapres Gibran

Mengapa PKI Tak Laku di Gorontalo?

AmsiNews

REKOMENDASI

Pendidikan Kebangsaan Sangat Penting Bagi Pramuka

Integrasi Jasa Ekosistem di Cagar Biosfer Wakatobi

Bibit Siklon Tropis 98S Dapat Membawa Hujan Lebat di Bengkulu Hingga Jawa Barat, Gelombang Laut 4 Meter

Pemantauan Kapal KKP Raih Penghargaan

Potensi Cuaca Ekstrem Hingga 16 Februari

Basarnas Ternate Perkuat Tim Underwater Rescue

Kategori

  • Advertorial
  • Berita
  • Biota Eksotis
  • Bisnis dan Investasi
  • Cek Fakta
  • Eksplorasi
  • Hiu Paus
  • Ide & Inovasi
  • Iklim
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Konservasi
  • Laporan Khusus
  • Orca
  • Pemilu & Pilkada
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Travel
  • Video

About

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Terms of Use
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Trustworthy News Indicators
Dari Laut

darilaut.id

Menginformasikan berbagai perihal tentang laut, pesisir, ikan, kapal, berita terkini dan lain sebagainya.

redaksi@darilaut.id
+62 851 5636 1747

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

Selamat Datang Kembali

Masuk dengan Facebook
Masuk dengan Google+
Atau

Masuk Akun

Lupa Password? Mendaftar

Buat Akun Baru

Mendaftar dengan Facebook
Mendaftar dengan Google+
Atau

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Isi semua yang diperlukan Masuk

Ambil password

Masukan username atau email untuk mereset password

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Berita
  • Pemilu & Pilkada
  • Laporan Khusus
  • Eksplorasi
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Ide & Inovasi
  • Konservasi
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Orca
  • Hiu Paus
  • Bisnis dan Investasi
  • Travel
  • Iklim
  • Advertorial

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.