Perusahaan besar sangat intens menawarkan produk yang bernuansa Ramadan. Bahwa citra yang seharusnya tercipta saat Ramadhan –versi perusahaan- adalah kemenangan di Ramadan dapat diraih dengan mengkonsumsi produknya. Seperti langgam Cartesian : aku mengkonsumsi, maka aku berpuasa. Puasa tak akan sempurna jika tak terjadi proses konsumsi.
Demikian pula halnya seperti media. Media massa juga sangat perhatian dengan Ramadan. Keuntungan finansial dari iklan perorangan atau pemerintah menjadi target utama media massa.
Dari sisi mikro, Ramadan telah menjadi arena perjuangan individu, keluarga, komunitas dan masyarakat untuk peneguhan eksistensi diri. Pertunjukkan pertandingan ini bukan saja terjadi melalui wacana-wacana dan simbol-simbol hegemonik yang diekspresikan dalam setiap kegiatan. Contohnya, ketika dalam sholat tarawih atau buka puasa bersama, aksesoris kehidupan pun dipertontonkan. Kita mengakui bahwa semua manusia adalah performer.
Setiap orang diminta untuk bisa memainkan dan mengontrol peranan mereka sendiri. Secara sadar masyarakat menorehkan identitas baru dalam batas waktu tertentu untuk gaya pakaian, dandanan rambut, segala macam asesoris yang menempel pada pilihan-pilihan kegiatan Ramadan yang dilalui. Belum lagi jika kita melihat ekspresi masyarakat dalam mengkonsumsi ragam kuliner yang diselenggarakan secara biner. Ramadan pun berhasil dipreteli keanggunannya.




