Leluhur kita sengaja menciptakan ritual simbolik tersebut untuk mengingatkan setiap orang agar senantiasa menyambut Ramadan dengan suci. Ritual diatas diciptakan bukan untuk membuat “ribet” zaman, tetapi sengaja dimaksudkan sebagai prosesi penyucian untuk mencapai langit.
Walaupun akhir-akhir ini, seiring perkembangan zaman, saling memaafkan sebelum Ramadan dilakukan secara virtual, baik melalui WhatsApp, Instagram, Facebook dan ragam media sosial lainnya.
Teknologi yang hadir telah meringkas waktu dan ruang, yang unsur perjumpaannya (tatapan, kehangatan dan kerinduan) terasa kering dan bahkan lenyap. Belum jika kita menyaksikan deretan senyuman elit yang banyak bertebaran di spanduk dan baliho, hingga teranyar adalah poster-poster digital (flyer) yang beredar pada sejumlah story dan snapachat hanya untuk sekedar mengucapkan selamat memasuki bulan suci Ramadan secara simbolik.
Seperti tak lengkap Ramadan jika tak ada poster-poster tersebut. Bahkan beberapa masjid seperti papan iklan yang menyewakan halamannya untuk ditutupi baliho yang sifatnya bukan untuk mengucapkan selamat, tetapi mempromosikan komoditinya.
Ramadan pun mulai digeser konteksnya, dari arena teologis menjadi arena produksi. Sebagai arena produksi, Ramadan dapat dipahami dari dua sisi, makro dan mikro. Dari sisi makro, Ramadan telah menjadi ajang perebutan kepentingan ekonomi dari perusahaan-perusahaan besar, media massa dan negara (elit politik) dalam rangka mengejar kepentingannya masing-masing.




