Beckley et al. (1997) melaporkan bahwa pada tahun 1984 sampai 1995, tercatat 36 ekor hiu paus terdampar di sepanjang Selatan Pantai Afrika, diantaranya ada 10 ekor yang terdampar pada tahun 1991 di satu lokasi selama tiga hari berturut turut.
Para peneliti menduga bahwa penyebab terdamparnya ikan-ikan hiu paus tersebut disebabkan karena ikan-ikan tersebut berenang terlalu dekat dengan pesisir pantai serta terjebak oleh arus pasang surut dan hempasan gelombang yang besar. Arzoumanian et al. (2005) melaporkan banyak kasus tabrakan antara hiu paus dan kapal besar.
Perilaku dan Pergerakan Hiu Paus
Hiu Paus adalah hewan soliter (suka menyendiri) dan jarang terlihat bergerombol. Jenis ikan hiu ini merupakan perenang yang lamban, dengan kecepatan tidak lebih dari 5 km/jam. Ikan ini berenang dengan menggerakkan seluruh tubuh dari sisi ke sisi (tidak hanya mengandalkan ekornya, seperti pada beberapa jenis hiu lainnya) (Colman dalam Graham, 2003). Meski bertubuh besar, ikan ini adalah hewan laut yang jinak dan kadang-kadang membiarkan para penyelam menungganginya, walaupun tindakan ini tidak dibenarkan oleh para peneliti hiu dan konservasionis.
Hiu paus muda sebenarnya cukup lembut dan dapat diajak bermain-main oleh para penyelam dan kerap dijumpai di banyak lokasi penyelaman di wilayah tropis, termasuk di Thailand, Maladewa, Filipina, Taiwan, Malaysiia, Pulau Christmas, Sri Lanka (Chen et al., 2002; Pinne et al., 2005; Rowat, 2007). Dalam 20 tahun belakangan ini penelitian tentang migrasi hiu paus dari satu tempat lainnya telah mulai dilakukan oleh para peneliti baik dengan menggunakan alat taging konvensional maupun yang elektronik.





Komentar tentang post