Kamis, November 5, 2026
Beri Dukungan
redaksi@darilaut.id
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Masuk
  • Daftar
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Home Sampah & Polusi

Tak Boleh ada Sedotan Plastik di Pulau Pari

redaksi
23 Juli 2018
Kategori : Sampah & Polusi
0
Tak Boleh ada Sedotan Plastik di Pulau Pari

FOTO: DOK. KKP

Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengajak warga di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, memperhatikan kebersihan, salah satunya dengan mengurangi penggunaan plastik dan tidak membuang sampah ke laut. Tidak boleh lagi ada minuman sedotan di pulau Pulau Pari.

“Mulai besok tidak boleh lagi ada minuman sedotan di pulau ini,” kata Susi, di Pulau Pari, Minggu (22/7). Di Pulau Pari Menteri Susi melakukan penanaman mangrove untuk memperingati Hari Mangrove Sedunia yang jatuh setiap tanggal 26 Juli. Kegiatan ini dilakukan warga Pulau Pari bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).

Menurut Susi, Indonesia sekarang ini sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia. “Malu kita, mandi pakai sabun, habis pakai sabun pakai bedak, habis pakai bedak pakai minyak wangi. Kurang apa lagi? Tapi buang plastik ke sana (laut). Itu kan berbeda. Kitanya bersih alamnya kotor, bagaimana?” ujar Susi.

Susi mencontohkan keberhasilan Kenya, Namibia, dan Ghana mengurangi penggunaan plastik. Salah satunya, dengan menghindari pemakaian kantong sekali pakai, dengan memakai tas ramah lingkungan.

“Ke pasar beli cabe setengah ons 1 kresek, bawang merah ½ ons satu kresek. Satu ibu rumah tangga pulang habis belanja bawang merah satu kresek, jahe satu kresek, semua sepuluh kresek bawa pulang ke rumah. Habis itu jadi sampah. Mau nanem pisang, nyangkul tanah isinya apa? Kresek,” katanya.

Warga di Pulau Pari, menurut Susi, perlu membuat aturan khusus mengenai larangan membuang sampah sembarangan. Masyarakat, Pemda, dan aparat keamanan bekerja sama. Masyarakat menjaga keindahan dan kebersihan pulau, Pemda membuat regulasi, dan aparat melakukan penengakan hukum.

Susi mengatakan, persoalan pulau itu ada di kebersihan, sanitasi, dan pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah ini sangat penting. Bayangkan bila setiap minggu 1000 turis datang ke Pulau Pari. Masing-masing membawa kantong kresek. “Berapa bungkus makanan dan lain-lain, mau dikemanakan sama Bapak-bapak? Buang ke laut? Pada saat air pasang balik lagi. Laut itu tidak suka dengan sampah. Pasti akan kembali ke pantai Bapak,” katanya.

Menteri Susi juga meminta masyarakat tidak lagi membuang langsung limbah minyak, sampah kimia, cat, dan oli ke laut karena dapat merusak karang-karang. Hal ini karena air laut tidak punya penyaring.

Susi mengatakan, warga mengelola Pulau Pari sebagai anugerah dari Tuhan untuk diwariskan bagi generasi mendatang. Pengelolaan Pulau Pari jangan hanya ditujukan untuk mencari uang semata.

Menteri Susi meminta warga untuk tidak serakah menangkap ikan. Hal ini dilakukan agar ikan memiliki waktu untuk beregenerasi. Sediakan waktu untuk berlibur. Seperti kebijakan sasi (penutupan sementara) penangkapan kerang lola, lobster, dan sebagainya yang diterapkan beberapa daerah dalam jangka waktu tertentu, misalnya di Banda Neira.

“Kalau pasang jaring Kamis sore, Sabtu pagi diambil, sama saja bohong. Maksud Ibu itu libur, ulah nyokot, jangan ngambil ikan dulu dari laut. Semakin diatur jeda-jedanya, semakin hasilnya banyak,” kata Susi.

Menteri Susi juga mengajak warga di Pulau Pari membentuk posko Pandu Laut Nusantara. Posko ini sebagai gerakan mencintai, menjaga, dan merawat laut serta pesisir. Gerakan ini gencar digalakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama para aktivis lingkungan.*

Tags: KKPSusi PudjiastutiWALHI
Bagikan2Tweet2KirimKirim
Previous Post

WALHI Prihatin 50 Persen Mangrove di Indonesia Rusak

Next Post

Tol Laut Belum Berdampak Terhadap Disparitas Harga

Postingan Terkait

Terjerat Impor Ikan

Konsumsi Ikan yang Tercemar Timbal Mengganggu Fungsi Organ dan Reproduksi

19 Oktober 2026
Mahasiswa KKN UNG Perkenalkan Teknologi Pirolisis untuk Olah Sampah Plastik

Mahasiswa KKN UNG Perkenalkan Teknologi Pirolisis untuk Olah Sampah Plastik

7 Oktober 2026

Jejak Sampah Dari Sungai ke Laut

Monster Baru di Laut Mediterania Sampah Plastik

UNEP dan GEF Perkuat Pemantauan Merkuri dan Bahan Kimia Beracun

Indonesia Penghasil Limbah Elektronik Terbesar di Asia Tenggara

Krisis Polusi Plastik Mencekik Lautan, Bahan Alternatif  Terhambat tarif dan Peraturan

4.000 Spesies Laut Terpengaruh Plastik

Next Post
Tol Laut Belum Berdampak Terhadap Disparitas Harga

Tol Laut Belum Berdampak Terhadap Disparitas Harga

Komentar tentang post

TERBARU

Mengapa Anak Muda Selalu Kalah dalam Politik Gorontalo?

Dunia Menuju Kondisi Melampaui Ambang Batas 1,5°C

Dana Adaptasi Iklim Belum Cukup di Tengah Pemanasan Global yang Melampaui 1,5°C

Mengukur dan Memprediksi Perubahan Permukaan Laut

Komisi Oseanografi Terbitkan Kerangka Kerja Pengamatan Permukaan Laut Global

Kelompok Talin di Raja Ampat Kembangkan Potensi Kelapa Kampung

AmsiNews

REKOMENDASI

Prospek Ikan Hias Air Tawar

Air Sangat Penting Untuk Mitigasi Perubahan Iklim

Prof. Eduart Ingatkan Calon Mahasiswa yang Lulus SNBT Daftar Ulang

Gelombang Tinggi, Angin Kencang, Ini Kejadian Laut di Akhir 2018

Berdiri dan Berpose di Atas Satwa Laut yang Sudah Mati

Terhalang Cuaca Buruk, Bayi Orca Belum Menyatu Dengan Keluarganya

Kategori

  • Advertorial
  • Berita
  • Biota Eksotis
  • Bisnis dan Investasi
  • Cek Fakta
  • Eksplorasi
  • Hiu Paus
  • Ide & Inovasi
  • Iklim
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Konservasi
  • Laporan Khusus
  • Orca
  • Pemilu & Pilkada
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Travel
  • Video

About

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Terms of Use
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Trustworthy News Indicators
Dari Laut

darilaut.id

Menginformasikan berbagai perihal tentang laut, pesisir, ikan, kapal, berita terkini dan lain sebagainya.

redaksi@darilaut.id
+62 851 5636 1747

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

Selamat Datang Kembali

Masuk dengan Facebook
Masuk dengan Google+
Atau

Masuk Akun

Lupa Password? Mendaftar

Buat Akun Baru

Mendaftar dengan Facebook
Mendaftar dengan Google+
Atau

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Isi semua yang diperlukan Masuk

Ambil password

Masukan username atau email untuk mereset password

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Berita
  • Pemilu & Pilkada
  • Laporan Khusus
  • Eksplorasi
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Ide & Inovasi
  • Konservasi
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Orca
  • Hiu Paus
  • Bisnis dan Investasi
  • Travel
  • Iklim
  • Advertorial

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.