Gempa susulan dapat terus terjadi selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah gempa besar.
Alih-alih memprediksi kejadian gempa secara spesifik, ahli seismologi menghitung probabilitas terjadinya gempa besar di suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu; analisis ini menjadi dasar bagi penyusunan standar bangunan yang dapat menyelamatkan nyawa. Mereka juga mengoperasikan sistem peringatan dini yang memberi tahu masyarakat segera setelah gempa mulai terjadi.
Bagaimana Gempa Bumi Terjadi?
Secara sederhana, gempa bumi terjadi ketika kerak Bumi berguncang.
Lapisan luar Bumi terpecah menjadi kepingan-kepingan yang bergerak layaknya potongan teka-teki, yang disebut lempeng tektonik, dengan ketebalan sekitar 100 km (62 mil). Lempeng-lempeng ini berada di atas batuan mantel panas yang bersifat padat namun mengalir perlahan, yang menarik serta mendorong lempeng-lempeng tersebut selama jutaan tahun.
Lempeng-lempeng ini senantiasa bergerak, namun tepiannya sering kali saling mengunci dan mengakumulasi tekanan hingga batuan tersebut akhirnya patah di sepanjang retakan yang disebut sesar (patahan). Sesar ini bisa membentang hingga ratusan kilometer.
Banyak sesar telah dipetakan dengan baik, namun ada pula yang baru diketahui keberadaannya saat terjadi patahan atau pergerakan.



