Bencana ini telah membawa persatuan yang jarang terjadi, ketika lembaga-lembaga pemerintah di seluruh wilayah Libya bergegas membantu daerah-daerah yang terkena dampak. Namun upaya bantuan terhambat akibat kerusakan yang terjadi setelah beberapa jembatan yang menghubungkan kota tersebut hancur.
Mengutip Aljazeera.com, Wali Kota Derna, Abdel-Moneim al-Ghaithi, mengatakan jumlah korban jiwa bisa bertambah hingga 20.000 jiwa mengingat banyaknya kawasan yang diserang banjir.
“Dalam hitungan detik permukaan air tiba-tiba naik,” kenang salah satu korban selamat. Korban hanyut bersama ibunya dan dalam cobaan berat pada larut malam sebelum mereka berdua berhasil masuk ke sebuah bangunan kosong di hilir.
“Air terus naik hingga kami mencapai lantai empat,” kata pria yang tidak disebutkan namanya itu dari ranjang rumah sakit, dalam kesaksian yang diterbitkan oleh Pusat Medis Benghazi.
Koordinator Residen dan Kemanusiaan di Libya, Georgette Gagnon, memimpin upaya tanggapan PBB dan telah mendirikan pusat koordinasi di Benghazi.
Penilaian masih berlangsung, namun OCHA memperkirakan lebih dari 880.000 orang, di lima provinsi, tinggal di daerah yang terkena dampak langsung badai dan banjir bandang.
“Skala bencana banjir di Libya sangat mengejutkan dan memilukan. Seluruh lingkungan telah dihapus dari peta,” kata Wakil Sekretaris Jenderal PBB Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat, Martin Griffiths.




