“Karena mereka adalah pemain kunci biogeokimia. Perintis mikroba ini dapat memodifikasi abu, mendorong perkembangan lingkungan tanah dan meningkatkan kinerja tanaman. Oleh karena itu, tanpa kedatangan mikroba lebih awal, suksesi ekologis dan perkembangan tanah akan tertunda,” katanya.
Karena itu, menurut Kustiariyah, meningkatkan pemahaman tentang suksesi dan perkembangan komunitas mikroba itu penting dan merupakan kunci perkembangan tanah serta sedimen. Keberadaan mikroba juga mempengaruhi kimia bahan organik.
Akumulasi dan stabilitas jangka panjangnya maupun proses pelapukan mineral berkontribusi pada kesuburan tanah.
“Hasil studi ini akan memberikan wawasan yang signifikan tentang pembentukan ekosistem awal pada abu vulkanik melalui identifikasi koloni mikroba perintis. Data ini akan menjadi dasar untuk pemantauan perkembangan ekosistem Anak Krakatau di masa mendatang,” ujarnya.
Untuk pengayaan materi pembelajaran, hasil kajian juga akan dipublikasikan di jurnal ilmiah dan dipresentasikan pada forum ilmiah atau disampaikan kepada stakeholders terkait.
Selain Dr Kustiariyah dan Dr Hawis, tim peneliti FPIK IPB University yang terlibat dalam riset ini masing-masing Dondy Arafat, Raihan Hadi Syahputra, M Arief Budiman, Moh Saeful Hidayat dan Ade Gde Tangkas Vahyu, serta M Iqbal Sani.





Komentar tentang post