“Paupau muncul, ikan tuna yang ada di mata pancing hanya sisa kepala,” kata Umar Ibrahim, 56 tahun, nelayan pemancing tuna dari Kelurahan Tanjung Keramat Kota Gorontalo.
Umar sudah 30 tahun berprofesi sebagai pemancing ikan tuna. Ia tinggal di Kelurahan Tanjung Keramat, Kota Gorontalo. Semua nelayan di Tanjung Keramat, pemancing tuna.
Di Kota Gorontalo ada dua lokasi spesialis penangkap ikan tuna. Di Tanjung Keramat dan Ololalo. Dua tempat ini, nelayannya hanya konsentrasi menangkap bukurasi. Di pesisir Gorontalo lainnya, seperti di Bone Bolango, Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo, sebagian Boalemo dan Pohuwato, nelayan menangkap ikan pelagis campuran.
Populasi bukurasi di Teluk Tomini, mulai bulan Agustus. Puncak musim bukurasi di bulan November hingga Desember. Ada kalanya hingga Januari. Setelah itu, jumlah bukurasi menurun. Namun, tetap ada hasil tangkapan tuna.
Untuk sekali melaut, nelayan pemancing ikan tuna paling sedikit mengeluarkan biaya Rp 1 juta. Ongkos ini sudah termasuk bahan bakar minyak, makan dan biaya lainnya.
Jika hasil tangkapan ikan tuna belum ada, nelayan akan tetap menunggu di rumpon. Sebab, cukup tinggi biaya sekali beroperasi. Minimal, dengan sekali jalan, hasil tangkapan impas dengan ongkos yang dikeluarkan.
Tipikal nelayan Gorontalo, tidak bergantung dengan hasil tangkapan ikan dari terumbu karang. Mereka pun secara turun-temurun, diwariskan untuk melindungi semua spesies mamalia laut.





Komentar tentang post