EPASS mulai berkegiatan di Tangkoko, pada 2016. Langkah awal yang dilakukan dengan membersihkan areal peneluran di Rumesung.
Pembersihan lokasi dilakukan tiap 3 bulan sekali. Pada 2018, EPASS kemudian menanam pohon pelindung karena di Rumesang didominasi alang-alang.
Jenis yang ditanam pohon mangga dan linggua. Selain, pohon lain yang ditanam jenis kemiri, ganemo dan pohon gamal.
Di bukit tempat maleo bersarang, memiliki campuran lempung (tanah liat) dan kerikil. Terdapat sumber panas bumi di lokasi tersebut.
Menurut Edyson, menghindari pemangsaan telur maleo di alam, dilakukan pemasangan jerat untuk biawak (soa-soa) yang merupakan predator utama.
Untuk memperoleh hasil monitoring keberadaan satwa ini di alam, dipasang camera trap, pada 2019. Camera trap berada didekat lokasi peneluran.
Camera trap atau kamera jebakan, sudah lama dikenal sebagai alat monitoring yang efektif dan hasil yang lebih akurat. Alat ini sangat membantu dalam upaya konservasi satwa liar.
Peralatan dalam camera trap dilengkapi sensor gerak dan sensor panas (termal). Selama dipasang ditempat yang tepat, sensor langsung aktif saat ada pegerakan atau suhu berbeda dengan lingkungan di area cakupan sensor.
Di Tangkoko, sudah lama dilakukan upaya konservasi untuk terus melestarikan habitat tumbuhan dan satwa. Ahli kehutanan Sijfert Hendrik Koorders, melalui Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda (Nederlandsch Indische Vereeniging tot Natuurbescherming) telah mengusulkan ke Pemerintah Hindia Belanda untuk dijadikan monumen alam.





Komentar tentang post