Patahan gempabumi menyebabkan longsoran dasar laut dengan inidikasi ditemukannya banyak tanah tenggelam (amblas) dan perubahan muka pantai yang drastis. Pepohonan kelapa tumbang dan tergenang air laut, serta sejumlah tanah terbelah mulai terlihat dari Pantai Lero, Marana, Enu hingga ke Labean.
Longsoran ini telah menarik bangunan-bangunan perumahan, pasar dekat pantai ke arah dasar laut. Beberapa nelayan di Desa Lolilondo, Lolipesua, dan Lolisaluran, Kecamatan Banwa di Kabupaten Donggala melihat pusaran air membentuk buih putih di lautan dalam waktu yang lama. Bahkan setelah tsunami surut dari pantai.
Nelayan di Pantai Marana menyaksikan rumpon-rumpon dengan tali pancang kedalaman 200 m tersedot dan tenggelam hilang ke dasar laut. Video dari pilot yang berhasil terbang pada saat gempabumi melanda Palu juga memperlihatkan fenomena pusaran air (whirpool).
Laporan survei BMKG ini dengan judul “Merekam Jejak Tsunami Teluk Palu 2018” ditulis Sugeng Pribadi bersama Indra Gunawan, Jimmy Nugraha, Tri Haryono, Erwan Susanto, Irawan Romadon, Candra Basri, Alhusen Mustarang dan Heriyanto.
Jejak-jejak genangan (inundasi) tsunami yang berhasil ditemukan tim BMKG berupa garis-garis air bercampur lumpur pasir pantai yang membekas pada dinding bangunan. Kemudian, ranting dan dedaunan yang mengering kuning akibat terkena air laut. Sampah dan material yang tersangkut di ketinggian atap bangunan, pepohonan atau dataran tinggi dan batu-batu karang yang terangkat ke daratan.





Komentar tentang post