
Benjamin mengatakan, Laut Banda dan Seram, sebagai titik akhir migrasi Paus Biru. Mamalia laut ini migrasi ke Indonesia timur dari zona konvergensi sub-Antartika, selatan Australia.
Berdasarkan survei ini, komponen penting lainnya adalah penilaian ancaman terhadap mamalia laut. Ancaman utama, seperti di kebanyakan perairan lainnya di Indonesia adalah banyaknya sampah plastik. Plastik ini ditemukan di sepanjang rute survei.
Penilaian lain yang dilakukan tim ini termasuk interaksi mamalia laut dengan kegiatan minyak dan gas, pariwisata, perikanan dan industri laut lainnya. Kegiatan ini dapat menjadi ancaman jangka panjang.
Survei dilakukan pada November 2016, untuk mengatasi kekurangan data pola migrasi cetacea untuk kawasan konservasi Laut Banda dan Seram. Kawasan ini mencakup 1.022 kilometer jalur lintasan dari Ambon ke Kepulauan Banda dan Seram Barat, termasuk Selat Manipa (yang merupakan koridor laut utama).
Survei Laut Banda-Seram menunjukkan kawasan tersebut sebagai habitat penting bagi cetacea besar. Hasil survei juga menggambarkan konektivitas keanekaragaman hayati laut antara Laut Banda dan Laut Seram. Dari perspektif perencanaan tata ruang laut, kawasan ini berada di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) Indonesia 714 dan 715.
WPP 714 dan 715 memang menjadi perlintasan mamalia laut yang berukuran besar. Di perairan ini juga terdapat pergerakan utama oseanografi, yakni upwelling dan Arlindo.





Komentar tentang post