Dari aspek perikanan, menurut Ikram, Laut sawu berperan untuk ekspor larva dan spill over ke beberapa WPP. Terutama di WPP 713.
Selain itu, Ikram menyarankan, di setiap pelabuhan perikanan terdapat data biologi perikanan. Peran pelabuhan terhadap manajemen perikanan tangkap, masih konvensional. “Artinya, masih berkutat pada penyediaan dan pelayanan logistik, serta data produksi (volume dan nilai),” katanya.
Pelabuhan perikanan di Indonesia, menurut Ikram, masih belum menyajikan data dan informasi tahunan ikan yang didaratkan berdasarkan morfometri. Seperti jenis kelamin dan kondisi biologi ikan, terutama tingkat kematangan gonad.
Akibatnya, tidak diketahui perbandingan jumlah ikan yang tertangkap berdasarkan morfometri dan jenis kelamin. “Tingkat kematangan gonad ikan yang tertangkap sepanjang tahun tahun juga tidak diketahui,” katanya.
Ikan tuna hidup di Samudera Hindia, Samudera Pasifik, dan Samudera Atlantik. Selain peran ekonomi sebagai komoditi utama hasil perikanan, ikan tuna memiliki aspek konservasi.
Itu sebabnya, penangkapan juvenil dan ikan-ikan kecil, seperti baby tuna akan mengarah pada overfishing. Kondisi ini yang pernah terjadi di Teluk Tomini, sejak sepuluh tahun lalu. Baby tuna ini belum sempat memijah, tetapi sudah ditangkap.





Komentar tentang post