“Dalam sehari satu ton ikan dibuang begitu saja,” kata Leonard.
Yang paling kerap diburu nelayan adalah ikan kakap cina dan ikan gulama. Selain itu, kakap putih, kuro dan ikan duri. Di Papua, kakap cina ini disebut juga ikan conggek.
Nelayan di Papua, mengincar gelembung renang sejak awal tahun 2000. Karena permintaan meningkat, harganya pun naik terus.
Tingginya permintaan gelembung renang ini, berimbas pada galangan kapal. Muncul galangan kapal tradisional untuk membuat kapal-kapal ikan baru.
Adapula kapal yang sebelumnya mencari ikan hiu, beralih menangkap ikan untuk diambil gelembung renang.
Berdasarkan data di Stasiun KIPM Merauke, pada 2018, bulan Januari hingga Juni jumlah pengiriman gelembung ikan dari Merauke mencapai 82.000 kilogram.
Menurut Kepala Stasiun KIPM Merauke Nikmatul Rochman, Merauke melakukan ekspor perdana gelembung renang pada Desember 2018.
“Negara tujuan ekspor ke Singapura,” kata Nikmatul.
Khusus di Merauke pada 2018, berdasarkan catatan Stasiun KIPM, komoditas ikan terbanyak dikirim ke Surabaya 43 persen (6,8 ribu ton), kemudian Probolinggo 24 persen (3,9 ribu ton), Jakarta 16 persen (2,5 ribu ton), Bali 12 persen (1,8 ribu ton) dan daerah lainnya Makassar, Sorong, Jayapura 5 persen (800 ton).
Kepala Balai KIPM Jayapura, Suardi mengatakan, komoditas perikanan dari Provinsi Papua belum banyak yang diekspor secara langsung. Kebanyakan ikan-ikan hasil tangkapan baik pelagis besar, pelagis kecil dan demersal dibawa terlebih dahulu ke Surabaya, Bali, Jakarta dan Makassar





Komentar tentang post