Ramli mengatakan, sebanyak tujuh spesies burung telah terakumulasi logam merkuri di pesisir Pohuwato. Burung-burung predator ini makanannya ikan, serangga dan invertebrata lainnya di pesisir. Biota yang menjadi mangsa burung, antara lain ikan, krustasea, pelecypoda, dan gastropoda.
Tujuh spesies burung yang mencari mangsa di perairan pesisir telah diidentifikasi terakumulasi merkuri yakni Tringa glareola (0,3537 ppm), Butorides striatus (0,1070 ppm) dan Himantopus leucocephalus (0,5756 ppm).
Kemudian, Anas gibberifrons (0,0962 ppm), Todirhamphus chloris (2,3447 ppm), Numenius phaeopus (0,2961 ppm) dan Nycticorax nycticorax (0,2484 ppm)
Burung-burung yang menggunakan habitat perairan pesisir sangat rentan terhadap pencemaran perairan. Karena spesies burung sebagai predator puncak, mencari makan berbagai biota perairan.
Rantai makanan telah tercemar limbah merkuri, diindikasikan pada tubuh biota perairan. Masuknya logam merkuri ke dalam sistem ekologi ini dapat memberikan pengaruh secara beruntun pada biota.
Mulai dari tingkatan tropik yang paling rendah sampai dengan tingkatan tropik teratas. Biota seperti ikan, kepiting dan kerang yang hidup di perairan pesisir dapat mengkonsumsi logam merkuri dari perairan yang tercemar.
Jika ikan, kepiting, kerang ini masuk dalam rantai makanan, terjadi akumulasi logam merkuri yang cukup tinggi dalam tubuh burung air. Kondisi ini dapat menyebabkan kelainan, gangguan penyakit dan kematian.*





Komentar tentang post