Tidak sulit menemukan korban bencana seperti Andi Besse dan Muchlis. Mereka ini kebanyakan tidak tinggal di posko yang ada di dapur umum.
Untuk kondisi seperti ini memerlukan relawan yang mau bekerja, masuk keluar posko pengungsian. Melakukan identifikasi kebutuhan dan membantu apa yang dibutuhkan saat itu.
Bukan relawan yang berperan sebagai penghubung yang menyalurkan bantuan ke lembaga atau instansi yang sudah mendirikan posko dan dapur umum. Di lokasi-lokasi seperti ini, umumnya bantuan terus mengalir dari berbagai daerah dan donatur.
Cara mendatangi langsung, mengidentifikasi pengungsi yang sama sekali belum memperoleh bantuan telah dilakukan Azzam, relawan mandiri yang menyalurkan bantuan dari sejumlah warga Indonesia yang tinggal di Toulouse, Perancis.
Warga Indonesia di Toulouse mengirim sebanyak 1500 Euro untuk membeli bahan pokok dan kepeluan lain yang sangat dibutuhkan selama masa tanggap darurat. Azzam kemudian menyalurkan bantuan ini, di sejumlah pengungsian mandiri yang tersebar di banyak tempat.

Untuk lokasi pengungsian yang tendanya banyak lubang dan robek, diberikan tenda baru dengan alas (tikar). Sejumlah bahan pokok, seperti beras yang bisa digunakan satu sampai dua hari menjadi satu paket dan air mineral.
Untuk menyalurkan bantuan ini, Azzam dibantu Gusnar “Nain” Ismail dan Amrin Pulukadang, serta sejumlah relawan lainnya. Azzam dan Gusnar bersama sejumlah relawan, juga menyalurkan bantuan yang dikumpul Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) dari berbagai daerah.





Komentar tentang post