Data ini jika dikumpulkan dalam waktu yang lama bisa mengukur perilaku konsumsi masyarakat. Dari data pembayaran bisa mengukur kecendurungan orang membeli apa pada jam apa, dan suka produk apa, setiap orang bisa diukur berapa uang yang dikeluarkan di toko-toko retail tersebut. Sehingga, analisis big data tersebut bisa melakukan pemodelan dan melakukan justifikasi mengenai pengembangan brand.
Kemenangan beberapa kandidat termasuk Prabowo pun demikian, big data menjadi kata kunci kemenangan. Perekaman perilaku pemilih di media sosial dalam kurun waktu tertentu telah menghasilkan serangkaian data mengenai perilaku pemilih Presiden.
Justifikasi kampanye Prabowo pada Pilpres 2024 mengenai perubahan gaya yang tegas, sangat disiplin, kuat, hingga nasionalis, berubah 180 derajat menjadi gemoy yang disertai goyangan adalah hasil riset panjang mengenai sentimen pemilih, dan hal tersebut yang malah berhasil memenangkan Prabowo. Termasuk instrumen Mayor Teddy pada minggu tenang yang berhasil meraih simpatik pemilih perempuan.
Jika ditelisik lebih dalam, plihan isu itu (walaupun negatif dalam konteks demokrasi) adalah hasil dari pengolahan data time series yang cukup panjang dan hasil simulasi data digital dan data real.
Jadi, justifikasi terhadap pilihan-pilihan strategi penguatan brand baik institusi maupun personal, mengalami kecenderungan untuk bisa mengawinkan banyak hal dan data serta metode. Jika tidak, gugurnya brand besar baik institusi dan person, akan semakin tinggi.




