Nama Baik dan Nama Besar
Hal yang sama terjadi di pemilu barusan di Gorontalo. Rumusan-rumusan isu yang dipercakapkan di media sosial akan mengarahkan sentimen publik dalam menentukan pilihan.
Semakin bagus kualitas percakapan di media sosial, khususnya dalam pengelohan isu, wacana, dan gagasan kandidat, maka sentimen positif akan semakin mengerucut. Tentunya hal itu mesti beririsan dengan kebiasaan dan konteks sosio-antropologis masyarakat. Sebab, setiap individu selalu memili latar belakang kultural sebagai memori yang menjadi basis dalam menentukan.
Oleh karena itu, jarak kurang dari 2 bulan jelang pendaftaran di KPU, tentu saja partai politik akan mempertimbangkan kandidat yang memiliki potensi elektabilitas tinggi, komunikasi yang lancar hingga sumber daya yang dimiliki.
Pengalaman Pemilu 2024 yang banyak “mengubur” nama-nama besar adalah pelajaran. Era “nama besar” dari kandidat bisa berakhir jika “nama besar” tersebut tidak dikawinkan dengan “nama baik”. Nama baik yang dimaksud adalah formulasi representasi nilai-nilai diri kandidat yang beririsan dengan sentimen pemilih.
“Nama baik” adalah kepemilikan gagasan dan ide, kebaikan personal seperti jika dibutuhkan selalu hadir, tempat menerima keluhan, jika dimintai bantuan selalu berupaya bisa membantu. Yang parah adalah sudah tidak memiliki nama besar, juga tidak ada nama baik.




