Kondisi Gelombang
Hasil pengecekan Tim Peneliti menyangkut kondisi gelombang dan arus, berdasarkan data dari https://earth.nullschool.net/ pada 13 Juli 2021 menunjukkan nilai 2500 @ 3.3 s dan 3000 @ 0.67 m/s. Angka tersebut sudah masuk dalam kategori gelombang tinggi dan arus kuat.
Data ini juga diperkuat dengan pernyataan dari narasumber perekam video, Ramli dalam berita insidepontianak.com, dan Dosen FMIPA di Universitas Tanjungpura Antony Aritonang selaku. Pada Selasa 13 Juli malam, sebelum kemunculan teripang, terjadi cuaca buruk dan ombak besar.
Menurut Antony timun laut yang terdampar masih dalam keadaan hidup (karena masih terlihat berkontraksi/menggeliat), terdapat juga pecahan arang, ikan dan hewan bentik lainnya tapi jumlahnya tidak banyak.
Peristiwa timun laut terdampar juga sempat terjadi pada tahun 2019 di pesisir Lumukutan, Kalimantan Utara (Malaysia). Tetapi jumlah timun laut yang terdampar tidak sebanyak yang sekarang dan jenisnya Holothuria atra.
Selain itu, di sekitar Sambas, hampir setiap tahun saat gelombang tinggi (2-5 meter) juga sering ditemukan beberapa anakan hiu terdampar dalam keadaan lemas atau sudah menjadi bangkai.
Upwelling
Dengan data yang terkumpul seperti tersebut di atas, dugaan sementara Tim Peneliti terkait peristiwa ini adalah terjadi pergerakan massa air dalam ke permukaan atau disebut dengan upwelling. Hal ini akibat gelombang tinggi dan arus kuat di malam tanggal 13 Juli, dan pada saat terjadi upwelling tersebut bersamaan dengan perilaku timun laut yang sedang aktif keluar dari liangnya.





Komentar tentang post