“Masing-masing larva ikan memiliki keunikan dan mekanismenya masing-masing,” ujar Charles dalam Training Course Ichthyology Society (MII) Indonesia: Ichthyology and Fisheries Science (IFS) Seri ke-6 dengan topik ‘Teknik Pengambilan Sampel dan Identifikasi Larva Ikan’.
“Saya sudah melakukan penelitian terhadap larva ikan laut dalam, dan sebenarnya menggunakan alat yang paling canggih hingga yang sederhana sangat memungkinkan, jadi tidak perlu khawatir.”
Dalam menentukan penelitian atau sampling, kata Charles, perlu ditentukan terlebih dahulu tujuannya.
Peneliti juga harus siap karena pekerjaan harus dilakukan dengan cepat dan dalam keadaan segar. Apalagi sampel yang diambil berupa asam deoksiribonukleat (DNA).
Menurut Charles peralatan yang digunakan cukup sederhana, seperti jaring bongo, jaring bawah, dan pukat balok yang disesuaikan dengan kedalamannya. Teknik yang digunakan juga berbeda-beda sesuai dengan kedalaman pengambilan sampel.
Salah satu alat yang juga tidak kalah penting dalam menentukan kelimpahan larva adalah flowmeter.
Untuk daerah terumbu karang atau mangrove, perangkap cahaya dapat digunakan. “Peneliti juga bisa mengkombinasikan kearifan lokal yang sudah ada dalam penelitiannya,” ujarnya.
Analisis dan identifikasi larva ikan tidaklah mudah. Namun dalam identifikasi morfologi dan stadia larva ikan, harus ada parameter dan ciri khusus yang dapat membedakan setiap spesies larva ikan.





Komentar tentang post