Ikan layang ini belum termasuk hasil tangkapan nelayan lainnya yang tidak tertampung pada pembeli dan pemasar.

“Kapasitas tampung masih kurang dan sering nelayan membagikan kelebihan hasil tangkapan ke masyarakat atau sebagian nelayan membawanya langsung untuk dijual ke Ambon,” ujar Aldi.
Tercatat ada 19 kapal dari delapan perusahaan sebagai pembeli dan pemasar ikan, lima di antaranya adalah kapal khusus menampung ikan layang dan dua kapal khusus menampung ikan tuna. Selebihnya kapal yang menampung berbagai jenis ikan termasuk ikan layang.
Namun jumlah tersebut tidak cukup untuk menampung potensi perikanan di Kecamatan Banda khususnya produksi ikan layang. Dengan keterbatasan penampung seperti ini sering membuat harga ikan layang merosot, jika banyak nelayan pergi melaut di saat bersamaan.
Menurut ketua Koperasi Nelayan Usaha Bahari Kampung Baru Busri Hasan, mencari ikan momar (ikan layang) di Banda itu beda dengan di daerah lain. Di sini sangat mudah. Satu armada, ke laut jam empat pagi, jam delapan pagi sudah dapat hasil sekitar 1-5 ton.
Dalam sehari ada 4 kapal dari perusahaan yang bisa menampung dan itu cuma 20-25 ton. “Jadi, jika banyak armada, nelayan-nelayan banyak yang turun, kita berebut menjual hasil melaut kita sehingga harga sering jatuh,” kata Busri Hasan.





Komentar tentang post