Ekspedisi ini difokuskan untuk melakukan perbaikan pada Bouy dengan nomor ID RA163A, RT026, RT027, RA165A dan melepaskan 4 Bouy baru di Sekitar Samudera Hindia. Sistem terbaru pada bouy yang akan menyertakan sistem pengamatan karbon dioksida (CO2) di wilayah laut.
Dengan sistem tersebut, identifikasi sinking dan source CO dari wilayah Samudera Hindia akan diidentifikasi dengan lebih baik. Diharapkan ekspedisi ini dapat menjadi wadah untuk melakukan transfer ilmu pengetahuan dari NOAA ke BMKG.
“Kalau sering bekerja sama dan melakukan analisis bersama dengan NOAA, nantinya akan berimbas pada pengembangan kapasitas dan pengalaman BMKG dalam menganalisis kondisi iklim dan cuaca,” ujarnya.
Selama pelayaran ini, diharapkan juga ada pengumpulan data untuk validasi data terkait pemodelan, proyeksi, dan prakiraan iklim dan cuaca yang telah kita lakukan selama ini
“Pemodelan kita perlu divalidasi, kalau tidak ada Indonesia PRIMA kita kesulitan untuk memvalidasinya,” kata Dwikorita.
Pelepasan tim ekspedisi berlangsung di ruang Auditorium BMKG Kemayoran, Jakarta, Senin (11/11). Pelepasan dihadiri Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam BPPT, Yudi Anantasena, Deputi Bidang Koordinasi SDM, IPTEK dan Budaya Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Dr Safri Burhanuddin, serta perwakilan dari Science and Marine Officer US Embassy, Elisabeth Walton.*





Komentar tentang post