Nama-nama terbaru yakni; Black Panther sebagai Raja Wakanda, Vision, Nebula dan banyak tokoh lainnya dalam Infinity Wars. Barisan “pahlawan super” ini berhadap-hadapan dengan Thanos, tokoh yang dikenal sebagai penghancur peradaban bumi.
Anak-anak muda yang tidak terwariskan oleh sejarah kepahlawanan yang benar-benar dari bangsa kita sendiri, malahan dijejali oleh semangat kepahlawanan imajinatif. Mereka lebih bangga menceritakan kisah kepahlawanan versi Marvel dan DC Comics. Selain dari tokoh Marvel diatas, DC Comics juga melahirkan tokoh superhero seperti Superman, Batman, Wonder Woman, Flash, Green Lantern dan the Justice League of America dan lainnya.
Wabah kepahlawanan imajinatif ini adalah bagian dari ketidakstabilan kebudayaan dan identitas Indonesia dalam pusaran globalisasi. Mewabahnya geliat kepahlawanan imajinatif ini bisa disebut sebagai hibriditas kebudayaan dan identitas. Batas-batas kebudayaan yang mapan dikaburkan dan dibuat tidak stabil oleh hibridasi.
Pada subkultur anak muda, hibriditas ini sangat tampak pada minat konsumsi pada pahlawan super yang dikreasi secara imajinatif seperti oleh DC Comics dan Marvel. Pada titik ini, gaya menjadi aparatus identitas anak muda yang terpenting, dan karena itu menjadi arena hibridasi yang utama. Perbedaan yang riil dan imajinatif bukan lagi sesuatu yang hakiki, namun yang utama adalah soal gaya, tren dan identitas kekinian.




