Dengan kata lain, Gorontalo mengalami pergeseran dari politik kepemimpinan menuju politik representasi. Daerah ini masih hadir di Senayan, tetapi tidak lagi berada di ruang-ruang inti tempat keputusan nasional dirumuskan.
Ketika Elite Tidak Berbanding Lurus dengan Pembangunan
Fenomena ini sesungguhnya membuka pertanyaan yang lebih mendasar. Apakah banyaknya elite nasional otomatis menghasilkan percepatan pembangunan daerah?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.
Teori elite yang dikembangkan Vilfredo Pareto maupun Gaetano Mosca menjelaskan bahwa keberadaan elite lebih banyak menentukan distribusi kekuasaan daripada distribusi kesejahteraan. Elite memiliki akses terhadap pengambilan keputusan, tetapi keberhasilan pembangunan tetap bergantung pada kapasitas institusi daerah, kualitas birokrasi, kemampuan menyusun program, serta konsolidasi kepentingan lokal.
Dalam kasus Gorontalo, keberadaan banyak elite nasional memang meningkatkan prestise politik daerah. Akan tetapi, prestise tidak selalu berubah menjadi transformasi ekonomi. Ketergantungan terhadap dana transfer pusat masih tinggi, sementara struktur ekonomi daerah belum mengalami lompatan berarti.
Ini menunjukkan bahwa pembangunan daerah tidak cukup ditopang oleh figur-figur besar. Ia membutuhkan institusi yang kuat, birokrasi yang efektif, serta kepemimpinan kolektif yang mampu mengubah akses politik menjadi kebijakan yang berdampak langsung bagi masyarakat.




