Ia meninggalkan Ismail sendirian dan semakin tidak kuat hatinya menahan pedih. Bayinya semakin meronta, menangis sejadi-jadinya karena kehausan. Ia terus berlari di bawah terik matahari gurun pasir berharap menemukan air meskipun hanya sedikit. Harapan di seberang bukit yang satunya lagi, ia menuju dan berharap akan air untuk anaknya. Tapi tidak mendapatkan air yang dibutuhkan.
Dengan penuh pengorbanan Siti Hajar berusaha naik bukit yang dikenal dengan bukit Safa dan berlari (Sai) ke bukit Marwah secara bolak balik sampai tujuh kali berharap pertolongan dan mencari air untuk bayinya.
Sampai kemudian ia kaget ada suara yang menanyakan siapa namanya di sekeliling bukit, dan menanyakan kepada siapa suami dan Nabimu Ibrahim meninggalkanmu? Dia meninggalkanku kepada Allah jawab bunda Hajar, setelah diperhatikan suara itu dekat dengan Ismail dan saat itu pula terpancar cahaya yang berkilau dan Ismail tersenyum, berarti pertanda keadaanya baik. Ismail menggerak-gerakkan kedua tangannya ke udara dan mengetuk-ngetukkan kedua tumitnya ke dalam pasir, saat itu pula terdengar dari kejauhan seperti suara yang mengalir.
Atas kuasa Allah hamparan pasir terbelah menjadi tiga belahan, betapa bahagia dirasakan Siti Hajar saat melihat ada air yang mengalir dari belahan tanah pasir, bahkan derasnya air itu mengalir hingga membuat genangan.




