Humor, parodi, dan sarkasme adalah respon yang muncul dalam bentuk meme “Tsunami Half Marathon”, komentar dan story WA yang lucu adalah bentuk emotion-focused coping yakni mereka mereduksi kecemasan dengan menjadikan ancaman terasa dapat diakali, dikendalikan, atau setidaknya dimiliki secara simbolik. Ini juga berfungsi sebagai social coping: tawa bersama membentuk solidaritas sementara di tengah ketidakpastian, memperkuat rasa “kita masih bisa tertawa meski dunia berguncang”.
Slavoj Žižek memetakan mekanisme semacam ini sebagai cynical distance. Orang-orang sebenarnya menyadari bahaya, mereka mendengar sirine, membaca pesan, melihat peringatan, tetapi secara kolektif mengambil jarak dengan cara menyangkal urgensi melalui ironi dan sinisme. Humor menjadi alat ganda yakni mengakui ancaman (karena hanya yang tahu ada risiko yang bisa bercanda tentangnya), tapi sekaligus menangguhkan tindakan serius. Inilah penundaan aksi dengan ketidakterlibatan aktif karena ancaman telah “ditangani” secara simbolik lewat tawa, bukan secara praktis lewat evakuasi atau konfirmasi.
Cynical distance juga mengekspresikan ketidakberdayaan dengan menertawakan potensi tsunami, warga mengalihkan fokus dari ketidakmampuan struktural (misalnya tidak tahu jalur evakuasi, tidak percaya informasi resmi) ke performatif kontrol (saya bisa bercanda tentang hal ini, berarti saya tidak sepenuhnya takut).




