Rabu, Desember 17, 2025
Beri Dukungan
redaksi@darilaut.id
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Masuk
  • Daftar
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Home Orca

Kematian Paus Orca J50

redaksi
15 September 2018
Kategori : Orca
0
Kematian Paus Orca J50

KABAR kematian paus pembunuh J50, dikenal dengan panggilan Scarlet, memberi isyarat pentingnya mangsa alami. Putusnya rantai makanan, telah menyebabkan beberapa paus orca mengalami kekurangan nutrisi dan terganggunya reproduksi.

Seperti yang dialami J50. Upaya berbagai pihak telah dilakukan untuk mempertahankan kelangsungan hidup J50.
Namun, kondisi J50 tidak membaik. Di dalam kelompok J16, J50 sering terlihat tertinggal, di belakangan anggota keluarganya.

Dalam siaran pers yang dikeluarkan Pusat Penelitian Paus (The Center for Whale Research, CWR), 13 September 2018, J50 terakhir kali terlihat pada 7 September. Sejumlah ilmuwan dan peneliti, termasuk NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) masih sempat melihat J50.

Setelah itu, J50 tidak terlihat lagi. Sementara anggota keluarganya J16 semuanya masih ada. Upaya pencarian telah dilakukan selama tiga hari, tidak membuahkan hasil.

J50 hilang dan dianggap sudah mati. Selama tiga bulan, J50 telah menjadi perhatian internasional. Bukan hanya soal kekurangan makanan, sistem reproduksi paus pembunuh tidak lagi berfungsi dengan baik.

Kematian J50 memberikan indikasi makanan alami mereka, salmon Chinook, tidak tersedia lagi di laut. Berkurangnya salmon Chinook ini tidak lain karena pembangunan bendungan besar LSRD (Lower Snake River Dams).

Pembangunan bendungan ini telah memutus cara alami salmon Chinook berkembang biak. Selain itu, salmon Chinook berkurang karena penangkapan berlebihan, polusi bahan kimia beracun di sungai dan pengembangan industri serta pertanian.

Dalam dua bulan terakhir ini terjadi dua peristiwa tragis dalam keluarga paus orca. Pada 24 Juli J35/Tahlequah, melahirkan anak betina. Hanya setengah jam, anaknya mati. Selama dua minggu J35 membawa anaknya yang sudah mati.

Kemudian, September ini, J50 (keluarga J16) tidak terlihat lagi. “Saya pikir dia sudah pergi,” kata Ken Balcomb dari Pusat Penelitian Paus. Pusat penelitian ini telah mempelajari paus pembunuh sejak 1976.

Kondisi J50

2 Agustus: Para ahli menilai kondisi kesehatan J50.

9 Agustus: J Pod berada di perairan Kanada dan menuju ke perairan AS dekat Pulau San Juan. Meskipun sangat kurus dan kecil, J50 tetap dengan ibu dan saudara kandungnya.

10 Agustus: J pod pindah ke perairan Kanada. Tim melihat J50 berulang kali menyelam.

11 Agustus: Tim mengawasi J50 yang berinteraksi dengan anggota J pod lainnya. Sampel tinja dikumpulkan.

17 Agustus: Hasil tes pengujian dari sampel yang dikumpulkan dari J50 terdapat parasit nematoda. Umumnya parasit ini ditemukan pada paus pembunuh dan mamalia laut lainnya. Cacing ini biasanya bukan masalah pada hewan yang sehat. Namun, pada hewan yang kurus, parasit dapat menembus lapisan lambung, dapat membawa infeksi bakteri ke aliran darah atau membebani organ dalam.

4 September: Ahli biologi mengamati dan mencatat J50 sangat aktif dan terlibat dengan J Pod lainnya, meski kondisinya sangat kurus. J50 tetap dekat dengan ibunya, J16. Dokter hewan Dr Martin Haulena dari Aquarium Vancouver memberikan J50 dosis antibiotik dengan menggunakan anak panah.

6 September: Tim mengambil sampel tinja dari kelompok kecil paus J Pod, termasuk J50. Berdasarkan analisis genetik, sampel ini menunjukkan adanya cacing parasit.

8 September: J50 terlihat tertinggal setengah mil hingga satu mil di belakang anggota kelompok keluarganya yang lain. Kondisi tubuhnya tidak membaik. Dia kehilangan berat badan dan terlihat sangat kurus.

11 September: NOAA Fisheries dan mitra berupaya mengambil tindakan untuk menyelamatkan J50.

13 September: J50 belum terlihat dalam beberapa hari. Tim melakukan pencarian, namun belum juga ditemukan.*

Sumber: The Center for Whale Research dan NOAA Fisheries

Tags: paus orca
Bagikan5Tweet2KirimKirim
Previous Post

World Clean Up Day: Ayo, Perangi Sampah Plastik!

Next Post

Kapal Terbakar di Banggai Laut, Delapan Meninggal Dunia

Postingan Terkait

Tren Memprihatinkan: 24 Hiu Paus Terdampar di Selatan Jawa dalam 3 Tahun

Tren Memprihatinkan: 24 Hiu Paus Terdampar di Selatan Jawa dalam 3 Tahun

10 Desember 2025
Nekropsi Temukan Udang Rebon dalam Lambung Hiu Paus, Indikasi Keracunan Muncul

Nekropsi Temukan Udang Rebon dalam Lambung Hiu Paus, Indikasi Keracunan Muncul

10 Desember 2025

Darilaut.id Menyematkan Tahun 2025 Rekor Baru Agregasi Hiu Paus di Perairan Botubarani

Ini Ciri dan Keunikan Paus Biru yang Muncul di Botubarani

Individu Hiu Paus Bertambah Setelah Paus Biru Melintas di Perairan Botubarani

Ketika Dua Raksasa Paus Biru dan Hiu Paus Bertemu di Laut Tomini

Jalur Baru Migrasi Paus Biru di Teluk Tomini

Populasi Spesies Paus Biru Seperti di Perairan Botubarani Gorontalo Dapat Terancam Karena Tabrakan Kapal

Next Post
Kapal Terbakar di Banggai Laut, Delapan Meninggal Dunia

Kapal Terbakar di Banggai Laut, Delapan Meninggal Dunia

Komentar tentang post

TERBARU

Susu Kambing Lokal Gorontalo Berpeluang Jadi Bahan Baku Industri Olahan Susu

Respons Bencana Nasional, FK UNG Kirim Tim Medis ke Wilayah Terdampak Banjir Aceh

Bibit 93S di Selatan Jawa Berpeluang Sedang Menjadi Siklon Tropis

Analisis BMKG Sulawesi Selatan Berpotensi Cuaca Ekstrem Berupa Curah Hujan Tinggi

Komitmen Transparansi Berbuah Prestasi, UNG Kembali Raih Predikat Informatif 2025

UNG Asah Peran Strategis Kehumasan dan Kemitraan Lewat Workshop Tata Kelola

AmsiNews

REKOMENDASI

Kapal Ikan Bandar Nelayan 188 Kecelakaan di Samudera Hindia

Abu Vulkanik Gunung Ruang Dapat Merusak Badan Pesawat

November, Forum Negara Kepulauan Bertemu di Manado

Tambang Batu Bara Runtuh di Cina, Lebih 50 Orang Hilang

Waspada DBD di Musim Kemarau, Frekuensi Gigitan Nyamuk Akan Meningkat

Bagaimana Peta Politik Menuju Pilgub Gorontalo?

Kategori

  • Advertorial
  • Berita
  • Biota Eksotis
  • Bisnis dan Investasi
  • Cek Fakta
  • Eksplorasi
  • Hiu Paus
  • Ide & Inovasi
  • Iklim
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Konservasi
  • Laporan Khusus
  • Orca
  • Pemilu & Pilkada
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Travel
  • Video

About

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Terms of Use
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Trustworthy News Indicators
Dari Laut

darilaut.id

Menginformasikan berbagai perihal tentang laut, pesisir, ikan, kapal, berita terkini dan lain sebagainya.

redaksi@darilaut.id
+62 851 5636 1747

© 2023 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

Selamat Datang Kembali

Masuk dengan Facebook
Masuk dengan Google+
Atau

Masuk Akun

Lupa Password? Mendaftar

Buat Akun Baru

Mendaftar dengan Facebook
Mendaftar dengan Google+
Atau

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Isi semua yang diperlukan Masuk

Ambil password

Masukan username atau email untuk mereset password

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Berita
  • Pemilu & Pilkada
  • Laporan Khusus
  • Eksplorasi
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Ide & Inovasi
  • Konservasi
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Orca
  • Hiu Paus
  • Bisnis dan Investasi
  • Travel
  • Iklim
  • Advertorial

© 2023 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.