Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, kanker serviks menempati urutan kedua kanker terbanyak setelah kanker payudara di Indonesia.
Pengobatan bagi penderita kanker serviks masih menimbulkan banyak risiko. Selama ini, pengobatan kanker serviks masih dilakukan dengan operasi, radioterapi dan kemoterapi.
Pengobatan ini menimbulkan beberapa risiko dan dampak bagi penderita. Seperti kerusakan jaringan, luka dan infeksi pada usus, dan kekebalan terhadap obat tertentu.
Inovasi Tanker ini memudahkan bagi penderita ketika menggunakannya, tanpa khawatir dengan efek samping yang ditimbulkan.
“Penggunaan tampon masih jarang digunakan di Indonesia, hal ini karena tampon belum begitu dikenal masyarakat,” kata Hellen seperti dikutip ipb.ac.id.
Padahal tampon itu cukup nyaman dan aman. Biasa digunakan perempuan di berbagai negara. Inovasi ini sangat prospektif sebagai pilihan untuk pengobatan bagi penderita kanker serviks di Indonesia.
Keunggulan penelitian ini, karena menggunakan sampel tumbuhan lamun dari laut Pulau Bintan. Pulau Bintan termasuk daerah dengan jumlah penderita kanker serviks cukup banyak di Indonesia.
Selain itu, pemanfaatan lamun sebagai obat anti kanker bermanfaat untuk mengeskplorasi biota laut yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.





Komentar tentang post