BILA ditanya ikan ditangkap (diambil) di mana, masih ada nelayan atau pengusaha perikanan yang menyembunyikan lokasinya.
Apalagi penangkapan yang bergantung pada rumpon. Masing-masing menyembunyikan koordinat rumpon tersebut.
Seorang nelayan menceritakan di Laut Maluku, depan mulut Teluk Tomini, ada rumpon yang diganti orang lain.
Bagian atas dipotong, diganti dengan ponton Filipina atau model lain. Bagian bawah, seperti tali dan pemberat tetap sebagaimana adanya.
Rumpon sebagai alat bantu dalam menangkap ikan banyak dilepas di laut. Dari kedalaman ratusan meter hingga ribuan meter.
Ada rumpon yang dijaga atau biasa disebut dengan tukang lampu. Rumpon ini memiliki gubuk kecil untuk beristirahat. Ada pula rumpon yang tanpa penjaga.
Hingga kini, sebagian besar rumpon (ada yang menyebut rakit dan ponton) tidak diketahui titik koordinatnya.
Rumpon ditebar begitu saja di laut, dan hanya pengusaha atau nelayan di kelompok itu yang tahu lokasinya. Banyaknya rumpon yang ditebar pun tidak sesuai dengan regulasi yang ada.
Dalam perdagangan dunia, tidak ada lagi yang ditutup-tutupi. Seperti halnya Traceability dalam industri perikanan. Sejak satu dekade lalu, Traceability ini telah d diterapkan oleh Uni Eropa dan Amerika Serikat.
Traceability atau ketertelusuran (keterlacakan) komoditi perikanan ini sebagai salah satu syarat untuk menjamin sumber pangan tersebut.





Komentar tentang post