Kerajaan Banggai, awalnya hanya meliputi wilayah Banggai Laut dan Banggai Kepulauan, kemudian disatukan dengan Banggai Darat.
Tradisi Tumpe dan Malabot Tumbe diselenggarakan setiap tahun, awal bulan Desember. Materi utama tradisi ini adalah telur burung Maleo.
Telur burung Maleo ini diantar dari Batui ke Istana Keraton Banggai. Mulai dari persiapan yang dilakukan sejak sekitar bulan September-Maret saatnya burung Maleo bertelur hingga penjemputan.
Menurut Pristiwanto, setiap tahunnya, sejak zaman Kerajaan Banggai berdiri, tradisi adat ini selalu dilaksanakan, mulai tanggal 2 Desember. Di Kecamatan Batui dilakukan prosesi adat Tumpe, dilanjutkan perjalanan mengantar telur dengan perahu atau kapal motor menuju Kabupaten Banggai Laut.
Tanggal 4 Desember di Banggai Laut dilaksanakan prosesi upacara Malabot Tumbe yang biasa dikenal penyambutan telur maleo.
Di tahun 1970-an, pengantaran telur maleo masih berjumlah ribuan, sesuai dengan data statistik jumlah penduduk Batui. Waktu itu, setiap kepala keluarga wajib menyediakan dua butir telur maleo, satu butir untuk di simpan di kantir dakanyo’ (sekarang rumah lurah).
Telur yang disimpan ini mereka namakan telur “obat” dan sebutir lagi akan dibawa ke Banggai Laut, aturan tersebut sudah berlaku sejak zaman kerajaan. Namun sekarang, tak begitu lagi.





Komentar tentang post