Orang-orang panik, berteriak. Para jurnalis ikut berteriak sekeras-kerasnya memperingatkan semua orang.
“Lari.., lari, tsunami, tsunami..!”
Para jurnalis ini masuk ke dalam mobil. Kendaraan yang tadinya menuju Donggala diputar kembali ke arah Palu.
Banyak orang berlarian. Pintu mobil dibuka untuk membantu beberapa orang untuk masuk. Sampai tak ada lagi yang bisa masuk.
Ibu-ibu, nenek-nenek, anak-anak, semua histeris dan menangis di dalam mobil yang penuh sesak. Ketakutan dan mencekam.
“Sampai di ketinggian yang kami anggap aman, mobil saya hentikan,” ujar Ody.
Semua penumpang yang berjumlah 17 orang keluar dari mobil.
***
“Saya tidak tahu bagaimana bisa muat sebanyak itu,” kata Abdy Mari.
Setelah memastikan berada di lokasi yang aman, semua melihat ke arah dekat Pelabuhan Pantoloan. Banyak bangunan rata dengan tanah. Rumah-rumah hancur dan berpindah tempat. “Perahu dan kapal melintang di jalan, di mana-mana terlihat puing,” ujar Abdy.

Ke lima jurnalis ini kembali merekam peristiwa tersebut. Secara naluriah, mengambil gambar peristiwa ini untuk kepentingan berita dan mengabarkan pada dunia apa yang disaksikan dan dialami sendiri para jurnalis.
Sepintas, para jurnalis ini sadar dengan keberadaan keluarga di Palu.
Secara serentak mereka menghubungi keluarga di Palu. Telepon seluler tak bisa lagi menghubungi keluarga.





Komentar tentang post