Bagaimana dengan penjelasan BMKG? Pengecekan pada alat pemantau ketinggian gelombang (tide gauge) di Mamuju. Hasil observasi tide gauge, tercatat adanya perubahan kenaikan muka air laut setinggi 6 sentimeter pukul 17.13 WIB (18.13 Wita).
Dengan melihat catatan terjadi kenaikan muka air laut di Mamuju pada pukul 18.13, hasil ini sejalan dengan waktu perkiraan perekaman yang dilakukan Pilot Batik Air antara jam 18.10 – 18.12.
Hasil pemodelan BMKG, gempa ini berpotensi menimbulkan tsunami dengan level tertinggi SIAGA di Donggala Barat. Estimasi ketinggian gelombang tsunami 0,58 meter. Estimasi waktu tiba 17.22.43 WIB (18.22.43 Wita).
Berdasarkan analisis sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang diperoleh dari para ahli tsunami (ITB, LIPI, BPPT) tsunami disebabkan, pertama, di bagian Teluk Palu disebabkan adanya longsoran sedimen dasar laut di kedalaman 200-300 meter.
Sedimen dari sungai-sungai yang bermuara di Teluk Palu belum terkonsolidasi kuat sehingga runtuh/longsor saat gempa, dan memicu tsunami. Indikasinya: naik turunnya gelombang dan air keruh.
Kedua, di bagian luar dari Teluk Palu disebabkan oleh gempa lokal. Airnya lebih jernih.
Menurut BMKG, berdasarkan hasil update mekanisme sumber gempa yang bertipe mendatar (strike slip) dan hasil observasi ketinggian gelombang tsunami –serta telah dilewati perkiraan waktu kedatangan tsunami, maka Peringatan Dini Tsunami (PDT) ini diakhiri pada pukul 17.36.12 WIB (18.36.12 Wita).





Komentar tentang post