2000. Peneliti dari Bogor, Hendra Gunawan, melakukan kajian bio-ekologi maleo dan kembali melakukan penilaian lokasi-lokasi peneluran maleo di Sulawesi. Pada dekade ini, penelitian-penelitian lain pun mulai gencar dilakukan oleh beberapa universitas di Indonesia mengenai maleo, baik di dalam taman nasional dan kawasan lainnya.
2001. Wildlife Conservation Society (WCS) dan Balai TNBNW memulai Program Konservasi Maleo melalui pemantauan dan memindahkan telur-telur maleo di alam ke dalam bak-bak hatchery secara intensif. Lokasi berada di Tambun dan Muara Pusian, dan masih aktif sampai saat ini.

2002. IUCN membuat kategori baru untuk maleo. Status keterancaman global maleo menjadi genting (EN).
2003. WCS dan Balai TNBNW mereplikasi program konservasi maleo di Hungayono dan hingga kini masih aktif. WCS juga melakukan penilaian lokasi-lokasi peneluran maleo di lanskap TN BNW.
2007. Selebrasi pelepasliaran ke-4.000 anak maleo hasil penetasan di dalam hacthery dari Program Konservasi Maleo di TNBNW.
2010. Konferensi maleo internasional pertama diselenggarakan di Tomohon, Sulawesi Utara.
2015. Maleo ditetapkan sebagai salah satu dari 25 satwa prioritas nasional untuk ditingkatkan populasinya sebesar 10 persen, berdasarkan SK Direktur Jenderal KSDAE Nomor 180/IV-KKH/2015.





Komentar tentang post