Menurut Hanom, lanskap maleo dari tengah hutan sampai pantai. Cakupannya lebih luas dari hewan apapun di Sulawesi.
“Maleo adalah satwa payung yang bercitra positif di masyarakat, kharismatik, “sumber pangan”, tidak merusak, tidak dimusuhi. Karena itu, butuh kerja banyak pihak,” ujar Hanom.
Selain di Panua, terdapat lokasi peneluran burung maleo, seperti di dalam kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dan sekitarnya. Lokasinya berada di Muara Pusian, Tambun, Hungayono, Pohulongo, Tanjung Binerean, dan Batumanangis. Beberapa titik lokasi peneluran juga terdapat di Sulawesi Tengah di Sigi dan Banggai, Tanjung Matop dan Tolitoli. Sebaran maleo juga terdapat di Pulau Bangka dan Lembeh (Sulawesi Utara), serta di Buton Sulawesi Tenggara.

Maleo memiliki sejumlah nama lokal. Ada yang menyebut maleo, sebagaimana nama ilmiah. Maleo sengkawor, sengkawur (Minahasa), tuanggoi (Bolaang Mongondow), Molo di Sulawesi Tengah. Di Gorontalo terdapat 3 nama, bagho (bahasa Suwawa), panua (Gorontalo) dan Suangge (bahasa Bolango di Molibagu, Bolaang Mongondow Selatan).
Para pegiat konservasi di Gorontalo dan Sulawesi Utara, dari organisasi non pemerintah dan pemerintah (seperti Balai Taman Nasional Bogani Nani wartabone) telah menuliskan pedoman lokasi peneluran dan pelepasliaran satwa ini. Pegiat konservasi maleo ini seperti Hanom Bashari, Max Welly Lela, Muslim Kobandaha, Dini Rahmanita, dan Herman Teguh.





Komentar tentang post