Hasil penelitian dan pengalaman para pegiat konservasi maleo, mencatat masa inkubasi telur maleo di lubang peneluran umumnya 60–90 hari. Telur yang menetas tergantung suhu.
Maleo yang baru menetas akan naik ke permukaan tanah dengan kecepatan 0,5–1,0 cm per jam. Jika kedalamam lubang 20 cm, maka mereka akan mencapai permukaan setelah 20–40 jam.
Anak maleo ini tidak membutuhkan banyak perawatan. Setelah menetas, mereka sepenuhnya sudah mandiri dari induk mereka dan sudah dapat terbang.
Telur dalam lubang yang terindikasi sudah menetas, biasanya ditandai dengan permukaan lubang yang terlihat sedikit menurun atau cekung. Biarkan keadaan ini sampai anak maleo dapat keluar sendiri ke permukaan tanah.
Anak maleo ketika keluar dari lubang, akan muncul bagian kepala terlebih dahulu. Dalam kondisi seperti itu, bila di malam hari, akan sangat rawan dengan kemunculan predator seperti tikus. Bahkan semut pun bisa menjadi masalah bagi maleo yang dalam kondisi sebagian tubuhnya masih terkubur.
Predator telur dan anak maleo lainnya di alam, seperti ular, kadal, kucing, babi hutan dan burung. Bila tidak ada predator dan bisa keluar dari lubang, anak maleo akan masuk ke dalam hutan.
Dalam catatan pegiat konservasi, pada 1978, MacKinnon memperkirakan total individu maleo dari 13 lokasi peneluran Sulawesi Utara sebesar 3.000 individu dan memperkirakan 5.000–10.000 untuk seluruh Pulau Sulawesi. Argeloo (1994) memperkirakan populasi maleo khusus di Sulawesi Utara sebesar 335–740 pasang untuk lokasi-lokasi peneluran di pantai, dan diduga sekitar 2.000 pasang untuk lokasi-lokasi peneluran di daratan (inland).





Komentar tentang post