Berdasarkan kajian Buchart & Baker (2000) diperkirakan populasi maleo di Sulawesi Tengah dan Selatan sebesar 1.700–4.300 pasang, dan secara global diperkirakan populasi sebesar 4.000–7.000 pasang.
Khusus di lokasi peneluran Tambun (TN Bogani Nani Wartabone), hasil kajian Dekker (1990a) pada 1985–1986 terdapat 150–200 individu maleo yang berada atau memanfaatkan lokasi peneluran tersebut.
Saat ini, secara global BirdLife International (2017) memperkirakan populasi global maleo sebesar 8.000–14.000 individu dengan kecenderungan populasi yang menurun.

Untuk mempertahankan maleo ini tidak hilang dari Gorontalo dan tempat lain di Sulawesi lembaga internasional, peneliti maleo dan pegiat lingkungan berupaya tidak memberikan perlindungan habitat. Lokasi-lokasi peneluran perlu diselamatkan dengan cara translokasi.
Tanslokasi atau pemindahan satwa adalah pergerakan satwa hidup yang dimediasi oleh manusia dari suatu area/lokasi ke area lain dalam bentuk pelepasliaran. Caranya, dengan memindahkan telur burung maleo, ke tempat yang aman dari serangkan predator dan pencari telur maleo.
Prosedur ini mulai dilakukan Wildlife Conservation Society (WCS dan Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone pada 2001.
Di kawasan ini terdapat sejumlah lokasi tempat bersarang maleo. Program Konservasi Maleo melalui pemantauan dan memindahkan telur-telur maleo di alam ke dalam bak-bak hatchery secara intensif berada di Tambun dan Muara Pusian, dan masih aktif sampai saat ini.





Komentar tentang post