
Menurut Prof Adrian Bernard Lapian, orang-orang Sulawesi Selatan tidak hanya menamakan kapal pinisi melainkan berbagai macam nama sesuai dengan fungsi, asal daerah dan bentuknya. Namun, peneliti menggunakan “pinisi” berdasarkan temuan peneliti Australia mengenai gambar pinisi di Australia dan tradisi lisan di sana.
Catatan sejumlah peneliti menyebutkan perdagangan transnasional orang Makassar dengan Australia baru terjadi pada abad 17-19 dipimpin kapten U-nusu Daeng Remba. Hal itu di dukung bukti arkeologis dan historis yang mengadakan kontak dengan Aborigin Yolngu.
Sementara Chriastian Pelras (2006) dan Lapian (2009) menguraikan melalui teks I Lagaligo dan teks asing yang mengungkapkan orang Makassar telah mengadakan diplomasi dan perdagangan transnasional dengan daerah-daerah di Timur Indonesia, Jawa, Nusa Tenggara, Australia, dan Mindanao melalui pelayaran dan perdagangan antar pulau.
Zofrano Sultani dkk, mengambil kesimpulan, sistem sosial budaya orang Makassar membentuk karakter dan kebudayaan maritim sebagai bangsa pelaut. Orang Makassar bersama pedagang kosmopolitan Asia mempertahankan jaringan perdagangan transnasional timur dan meluaskan hingga ke perairan Australia.





Komentar tentang post