Proyeksi dampak ke depan dari perubahan iklim yang menjadi sangat populer saat ini dilakukan dengan rekayasa komputasi dan dikenal sebagai skenario modeling. Untuk melakukan rekayasa komputasi pada benua maritim Indonesia, dibutuhkan sebuah teknik khusus dalam perekayasaannya.
Di benua maritim, kebutuhan simulasi darat dan laut sama pentingnya. Hasil studi menunjukkan bahwa tidak mungkin hanya melihat hasil simulasi atmosfer dan daratan tanpa memasukkan dinamika dari laut.
Biasanya, simulasi laut memakai batas atmosfer sebagai sesuatu yang terpisah. Untuk benua maritim Indonesia, kedua dunia tersebut haruslah dipadukan dan diupayakan berjalan seiring dalam sebuah simulasi secara online. Data dari kedua simulasi, yaitu atmosfir darat dan simulasi laut akan dipertukarkan pada selang waktu dan pada parameter tertentu.
Butuh teknik komputasi khusus agar rekayasa komputing tersebut dapat berjalan dalam 3 simulasi, yaitu simulasi atmosfer darat, simulasi laut dan media pertukaran data. Hasil dari rekayasa komputasi tersebut menunjukkan perbaikan hasil simulasi dibandingkan dengan data observasi.
Rekayasa komputasi pada akhirnya harus dapat dijalankan pada sistim komputasi yang mumpuni di kondisi lokal, bukan hanya memakai super komputer yang dapat bekerja hanya di negara maju.





Komentar tentang post