Oleh : Dr. Gybert E. Mamuaya (Ketua Local Project Implementation Unit – Marine Science Education Project (LPIU – MSEP) Unsrat 1988-1993)
Akar Filosofis Mapalus
Di lereng Gunung Klabat yang diselimuti kabut pagi, masyarakat Minahasa telah lama mempraktikkan tradisi mapalus—sebuah sistem gotong royong yang melampaui sekadar kerja bersama.
Mapalus mencerminkan prinsip “Si Tou Timou Tumou Tou,” sebagai suatu aplikasi dari ucapan Sam Ratulangi “Si Tou Timou Tou.”
Filosofi ini menekankan pentingnya keseimbangan antara alam, manusia, dan roh leluhur dalam kehidupan sehari-hari.
Inilah yang mengakari konsep matakuliah pilihan pada Semester VII: “sistem analisis” yang diikuti oleh beberapa mahasiswa angkatan I pada program S1 baru Ilmu dan Teknologi Kelautan dalam periode tahun akademik 1991/1992.
Mapalus bukan hanya aktivitas sosial, melainkan sistem nilai yang terstruktur. Dalam praktiknya, mapalus mengatur distribusi hasil kerja secara adil, memperkuat ikatan sosial, dan meningkatkan ketahanan komunitas.
Prinsip-prinsip ini membentuk peta konsep yang menghubungkan gotong royong dengan distribusi hasil, penguatan ikatan sosial, dan ketahanan komunitas.
Dalam konteks pertanian, mapalus melibatkan siklus kerja yang terorganisir. Tahap “Ma’pukul” dilakukan oleh kelompok pemuda untuk penyiapan lahan, “Ma’tanam” oleh perempuan untuk penanaman bibit, dan “Ma’pali” oleh tetua adat untuk ritual perlindungan.




