Sumber tangkapan tuna Indonesia, berasal dari selatan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, yang umumnya diproses di unit pengolahan ikan di DKI Jakarta, Bali dan Sulawesi Utara.
Volume ekspor tuna dari kedua wilayah tersebut mencapai 131.823 ton dan 196.335 ton untuk tahun 2016 dan 2017, dengan nilai masing-masing sebesar 686,7 juta USD dan 1.042,1 juta USD (BKIPM, 2018a).
Mengingat cukup banyak kasus penolakan produk tuna dan tuna-like karena kandungan merkuri yang melebihi standar di pasar internasional dan Indonesia merupakan salah satu negara penghasil tuna dan tuna-like di dunia, sedangkan penelitian tentang kandungan merkuri pada tuna dan tuna-like masih kurang, maka studi ini penting untuk dilakukan.
Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kandungan merkuri yellowfin tuna, bigeye tuna dan swordfish, serta korelasinya dengan berat ikan dan menganalisis data kontaminan merkuri yellowfin tuna, bigeye tuna dan swordfish terkait pencemaran habitat perairan asal bahan baku di Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Metode analisis menggunakan regresi linier dan analisis t-test. Pengujian merkuri menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometric (AAS). Hasil analisis menunjukkan bahwa kandungan merkuri sangat bervariasi antar jenis, berat dan asal perairan. Dua jenis tuna dari kedua perairan mengandung merkuri <1,0 mg/kg, kandungan merkuri yellowfin tuna berkisar antara 0,06±0,06 mg/kg hingga 0,33±0,18 mg/kg, sedangkan bigeye tuna antara 0,05±0,02 mg/kg hingga 0,33±0,14 mg/kg.





Komentar tentang post