Tapi di ballik pengunduran diri atau pemberhentian ini ada secercah harapan di Republik ini.
Masih ada orang yang punya hati nurani, berintegritas dan tidak mementingkan jabatan dalam hidupnya. Suatu sikap langkah dan jadi teladan.
Dahulu kita mengenal Bung Hatta, Wakil Presiden Pertama RI. Ia mundur dan meletakan jabatannya sebagai Wapres karena tidak sepaham lagi dengan Bung Karno, Presiden RI.
Bung Hatta sempat mengkritik dengan tulisan berjudul Demokrasi Kita. Saya tidak bisa membayangkan jika itu terjadi zaman sekarang ini. Tapi kenyataan itu ada, ketika Pak Zulficar melakukannya.
Orang berebut jabatan, tapi Pak Zulficar meletakannya. Jabatan bukanlah segalanya.
Jika prinsip-prinsip perjuangan sudah tidak sejalan–seperti halnya Bung Hatta–maka jabatan mending diletakan ketimbang digenggam terus. Itu lebih terhormat dan bermanfaat bagi orang banyak.
Saya menghormati dan salut dengan Pak Zulficar. Arena perjuangan sangat luas Pak. Dunia tak selebar daun kelor.
Saya mendoakan dan mendukung gerak langkah Pak Zulficar untuk berkiprah di tempat lain dengan prinsip-prinsip yang bapak anut. Bravo!!
Muhamad Karim, Direktur Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim, Dosen Bioindustri Universitas Trilogi.





Komentar tentang post