Peter Sandman membedakan antara dua komponen yang membentuk persepsi risiko publik, Pertama adalah hazard yakni bahaya objektif atau potensi kerusakan, dan kedua adalah outrage yakni reaksi emosional masyarakat terhadap informasi tersebut. Dalam konteks Gorontalo, gempa Rusia menghadirkan hazard teknis: probabilitas tsunami yang dihitung dan disampaikan oleh BMKG. Tetapi yang kemudian lebih cepat tersebar dalam ruang sosial adalah outrage: kecemasan, kebingungan, ketidakpercayaan, dan desakan emosional yang dipicu oleh komunikasi yang tidak konsisten, ketidakjelasan status, serta jaringan informal (WhatsApp, grup keluarga, warung kopi).
Faktor-faktor yang meningkatkan outrage antara lain kurangnya kontrol (warga merasa tidak punya pengaruh atas ancaman), ketidakpastian, ketidakpercayaan terhadap institusi, dan isu distribusi informasi. Ketika klarifikasi datang (pencabutan waspada), ia tidak meredam outrage seketika karena tidak dikelola sebagai proses naratif: tidak ada “ritual” transisi dari ketakutan ke aman yang bisa menenangkan emosi kolektif. Jadi persepsi risiko tidak hanya dipicu oleh kemungkinan fisik tsunami, melainkan oleh ketegangan emosional yang berputar di antara pesan yang saling tarik-ulur.
Di dalam ruang itu, masyarakat menggunakan coping mechanism yakni strategi sosial-psikologis untuk meredam stres dan ketidakpastian. Dalam kerangka tersebut, coping bisa dibagi secara kasar menjadi tiga jenis: problem-focused (mencari solusi langsung), emotion-focused (mengelola respon emosional), dan meaning-focused (mencari makna atau reframe dari situasi). Karena struktur mitigasi formal (jalur evakuasi, edukasi berbasis rutinitas) belum melekat kuat secara kolektif, respons masyarakat banyak jatuh pada emotion-focused coping dan meaning-focused coping.




